Dari Cerita Ini Aku Jadi Mengerti Tentang Gelombang Kehidupan


Orang hebat itu adalah orang yang tahu kapan ia harus berjalan dan kapan ia harus berhenti di "setiap hal dalam hidupnya" Kutulis kisah ini tentang pentingnya untuk berhenti sejenak dalam mengarungi derasnya gelombang kehidupan.

Di pinggir pantai yang indah dan tampak mempesona dua orang sahabat yang sedang asik berenang.


(Singkat Cerita)

"Ayo ken, berenangnya agak ke tengah dikit, cukil mangajak eken dengan komando kepalanya.

Ogah ah, serem kil. lo aja yang ketengah, lo kan pinter berenang. eken sedikit ngeri mengiyakan ajakan Cukil.

Tenang aja lagi Sob. kan ada Gue. lo pasti aman deh. cukil meyakinkan eken yang terlihat ketar ketir & Takut.

Yakin.? aman ya.? eken meminta kepastian cukil.

Yakin aman ken. Gue kan juara renang di sekolah dulu. lo pasti aman. kalo ada apa-apa lo bisa andelin kemampuan renang gue. cukil memastikan ucapannya.

"Oke deh..."

Dan mereka pun mulai berenang menjauhi bibir pantai tempat mereka berasal. mengambang, berubah gaya berenang, dan canda menjadi "sesaji" kala mereka menempuh senti demi senti air asin yang sedang mereka tracking.

Tiba-tiba angin sedikit demi sedikit mulai mengencang. Gelombang pun mulai meninggi. dan Awan hitam berbondong bondong mendekati daratan.

kil gimana nih. eken mulai cemas dan panik.

Yuk kepinggir sekarang, eken mengajak cukil untuk kepinggir bibir pantai.

Eken pun mulai mengikuti Cukil yang berenang didepannya.

Tiba-tiba Ombak yang sangat tinggi bergulung dari arah belakang tubuh mereka.

"Huaaaa... Eken berteriak saat ombak yang besar menerjang mereka.

Lo gak apa-apa kan ken.? Cukil berteriak dari arah depan.

Lo gak apa-apa kan ken.? Cukil berteriak dari arah depan.

Aku aman. kamu dimana kil.? eken mencari cukil yang tadi berenang di depannya.

Gue di depan lo ken. kehalang ombak nih. lo terus aja berenag ke pinggir ya. nanti kita ketemu disana.

Aku takut gak kuat kil. kamu sih enak pinter berenang. Eken meneriaki Cukil.

Udah berenang aja, lo pasti bisa kok. cukil menyahut dari kejauhan. dan suaranya semakin jauh dari tubuh eken yang mulai kelelahan.

Eken memacu kecepatan renangnya dan menerjang gelombang yang semakin meninggi. berkali kali ia menghilang dan timbul dari riak-riak air.

Sementara Cukil sudah kelelahan. ia tak mampu lagi berenang melawan gelombang yang mematahkan kayuhan kakinya untuk berenag menuju bibir pantai. ia hanya pasrah mengikuti kemana gelombang membawaNya. "Tuhan. mungkin inilah akhir hidupku." cukil membatin sedih. ia yakin eken sedang menunggunya di pinggir pantai sambil berharap cemas akan keadaanNya. semoga eken bisa sabar menunggu ku. cukil menangis haru didalam kesendirianNya.

30 menit berlalu. Eken mulai menyadari gelombang laut sudah tidak separah beberapa waktu lewat. angin cenderung bergerak tenang, ombak bergulung hanya beberapa senti saja. nampak dihadapannya bibir pantai tempat ia dan eken biasa berenang.

Bersusah payah eken bergerak hingga menyentuh pasir yang memutih di hamparan pinggiran pantai.

"Alhamdullilah.. Eken kembali terisak.

Belum lagi pulih tenaga eken. ia segera bergegas mencari cukil yang mungkin sejak tadi mencarinya.

Cukil.... Cukil.... eken berteriak meneriaki cukil sahabatnya.

Dik,, dik.!! apa kamu mencari teman kamu.? seorang bapak nelayan menghampiri eken.

"Iya betul pak.. apa bapak melihatnya dimana teman saya.?

Coba adik Lihat di balai desa ya dik. siapa tahu itu teman adik.

Eken mulai berlari kearah balai desa dan menyaksikan pemandangan pilu dihadapannya. Cukil telah terbujur kaku, beberapa nelayan menceritakan, mereka menemukan cukil terombang ambing di lautan. mungkin ia tenggelam karena terlalu lelah melawan gelombang yang sedang gila-gilanya waktu beberapa jam lalu.

Eken kembali menangis sejadi jadinya. "kenapa cukil. kenapa bukan aku. bukankah aku tidak pandai berenang, bukankah Cukil dulu juara renang di sekolah." air matanya membanjir pipinya. terbayang semangat sahabatnya yang menyuruhnya terus berjuang hingga tiba di pinggir pantai.

Selamat jalan sahabat. Eken meninggalkan secarik kertas putih bertuliskan. "Terimakasih" diatas tanah merah tempat Cukil terbaring untuk selamanya.

Taukah kalian kenapa aku tuliskan cerita ini, karena ini adalah bentuk terimakasihku kepada para sahabatku yang selalu memberikan semangat sehingga aku dapat bertahan hidup sampai saat ini dari terhempitnya kekuranganku dalam melakukan sesuatu.? kerena dari kejadian dari kisah cerita itu aku jadi tahu satu hal yang mungkin akan aku ingat seumur hidupku.

Cerita ini mengajarkanku

Dalam hidup, kita bukan sekedar harus menjadi kuat, pandai dan terampil.

Tapi kita juga mesti tahu kapan kita harus berhenti sejenak untuk berjalan atau berjuang, bukan untuk menyerah, apalagi kalah.

Kita berhenti sesaat untuk "memastikan" apakah kita sanggup terus berjalan, kita berhenti sejenak untuk "memikirkan" kapan waktu yang tepat untuk kembali melangkah.

Tidak akan mungkin kita sanggup mendaki Mount evrest tanpa jaket. tidak akan mungkin kita sampai puncak himalaya tanpa berhenti untuk berkemah.

Kita berhenti sesaat untuk memikirkan apa yang terbaik bagi diri kita saat melawan.

"GELOMBANG GELOMBANG KEHIDUPAN"


Karena gelombang itu akan berubah setiap hari. dan kita tidak harus berhenti pula setiap hariNya.

Tapi berhentilah saat "Tiba-tiba GELOMBANG itu begitu menakutkan dan teramat berat untuk kita lalui dalam beberapa menit"

Berhentilah dan berfikirlah, biarkan sejenak tubuh kita untuk beristirahat. jika sudah mereda lanjutkan perjalanan panjang ini dengan ketenangan dan rangkaian pilihan bijak.

Orang hebat itu bukanlah orang yang suaranya paling besar dan memiliki teman yang paling banyak, ilmunya paling tinggi, hartanya paling berlimpah,

Orang hebat itu adalah orang yang tahu kapan ia harus berjalan. dan kapan ia harus berhenti di "setiap hal dalam hidupnya"